Dari
adanya Agresi Militer I dengan hasil diadakannya Perjanjian Renville
menyebabkan jatuhnya Kabinet Amir. Seluruh anggota yang tergabung dalam
kabinetnya yang terdiri dari anggota PNI dan Masyumi meletakkan jabatan ketika
Perjanjian Renville ditandatangani, disusul kemudian Amir sendiri meletakkan
jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Dengan
pengunduran dirinya ini dia mungkin mengharapkan akan tampilnya kabinet baru
yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar
ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin
suatu 'kabinet presidentil' darurat (1948-1949), dimana seluruh
pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.
Dengan
terpilihnya Hatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya
mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orang PNI, Masyumi, dan
tokoh-tokoh yang tidak berpartai. Amir dan kelompoknya dari sayap kiri kini
menjadi pihak oposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat
para pengikut Sjahrir mempertegas perpecahan mereka dengan pengikut-pengikut
Amir dengan membentuk partai tersendiri yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI),
pada bulan Februari 1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada
pemerintah Hatta.
Memang
runtuhnya Amir datang bahkan lebih cepat ketimbang Sjahrir, enam bulan lebih
dulu Amir segera dituduh -kembali khususnya oleh Masyumi dan kemudian Partai
Nasional Indonesia- terlalu banyak memenuhi keinginan pihak asing. Hanya empat
hari sesudah Perjanjian Renville ditandatangani, pada tanggal 23 Januari 1948,
Amir Syarifudin dan seluruh kabinetnya berhenti. Kabinet baru dibentuk dan
susunannya diumumkan tanggal 29 Januari 1948. Hatta menjadi Perdana Menteri
sekaligus tetap memangku jabatan sebagai Wakil Presiden.
Tampaknya
kini lebih sedikit jalan keluar bagi Amir dibanding dengan Sjahrir sesudah
Perundingan Linggarjati; dan lebih banyak penghinaan. Beberapa hari sesudah
Amir berhenti, di awal Februari 1948, Hatta membawa Amir dan beberapa pejabat
Republik lainnya mengelilingi Provinsi. Amir diharapkan menjelaskan Perjanjian
Renville. Pada rapat raksasa di Bukittinggi, Sumatera Barat, di kota kelahiran
Hatta -dan rupanya diatur sebagai tempat berhenti terpenting selama perjalanan-
Hatta berbicara tentang kegigihan Republik, dan pidatonya disambut dengan
hangat sekali.
Kemudian
Amir naik mimbar, dan seperti diuraikan Hatta kemudian: "Dia tampak
bingung, seolah-olah nyaris tidak mengetahui apa ayang harus dikatakannya. Dia
merasa bahwa orang rakyat Bukittinggi tidak menyenanginya, khususnya dalam
hubungan persetujuan dengan Belanda. Ketika dia meninggalkan mimbar, hampir
tidak ada yang bertepuk tangan"
Menurut
peserta lain: "Wajah Amir kelihatannya seperti orang yang sudah tidak
berarti". Sjahrir juga diundang ke rapat Bukittinggi ini; dia datang dari
Singapura dan berpidato. Menurut Leon Salim -kader lama Sjahrir- "Sjahrir
juga kelihatan capai dan jarang tersenyum". Menurut kata-kata saksi lain,
"Seolah-olah ada yang membeku dalam wajah Sjahrir" dan ketika
gilirannya berbicara "Dia hanya mengangkat tangannya dengan memberi salam
Merdeka dan mundur". Hatta kemudian juga menulis dengan singkat tentang
pidato Sjahrir: "Pidatonya pendek". Dipermalukan seperti ini, secara
psikologis amat mungkin menjadi bara dendam yang menyulut Amir untuk
memberontak di kemudian hari.
Perjanjian
Renville tidak lebih baik daripada perundingan di Linggarjati. Kedua belah
pihak menuduh masing-masing melanggar perdamaian, dan Indonesia menuduh Belanda
mendirikan blokade dengan maksud memaksanya menyerah. Bulan Juli 1948, Komisi
Jasa-jasa Baik, yang masih ada di tempat mengawasi pelaksanaan persetujuan itu,
melaporkan bahwa Indonesia mengeluh akan gencatan senjata yang berulang-ulang.
Sumber: Wikipedia
