Menlu Ben Bot
menegaskan, kehadirannya pada upacara Hari Ulang Tahun RI ke-60 dapat dilihat
sebagai penerimaan politik dan moral bahwa Indonesia merdeka pada 17-8-1945.
Atas nama Belanda, ia juga meminta maaf.
Menlu Belanda Bernard
Bot menyampaikan hal itu dalam upacara peringatan berakhirnya pendudukan Jepang
di Hindia Belanda, hari Senin 15 Agustus 2005 di kompleks Monumen Hindia, Den
Haag. Pernyataan Bot itu juga disaksikan Ratu Beatrix, yang hadir meletakkan
karangan bunga.
Bot secara eksplisit
mengungkapkan bahwa sikap dan langkahnya tersebut telah mendapat dukungan
kabinet. "Saya dengan dukungan kabinet akan menjelaskan kepada rakyat
Indonesia bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia de facto
telah dimulai 17-8-1945 dan bahwa kita 60 tahun setelah itu, dalam pengertian
politik dan moral, telah menerima dengan lapang dada," demikian Bot.
Pengakuan secara resmi
soal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 selama ini sulit diterima para
veteran, sebab mereka ketika itu setelah tanggal tersebut dikerahkan untuk
melakukan Agresi Militer. Baru kemudian pada 27 Desember 1949 penyerahan
kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secara resmi diteken.
Menurut menteri yang
lahir pada 21 November 1937 di Batavia (kini Jakarta), itu sikap menerima
tanggal kemerdekaan Indonesia pada 17-8-1945 dalam pengertian moral juga
berarti bahwa dirinya ikut mendukung ungkapan penyesalan mengenai perpisahan
Indonesia-Belanda yang menyakitkan dan penuh kekerasan. "Hampir 6.000
militer Belanda gugur dalam pertempuran, banyak yang cacat atau menjadi korban
trauma psikologis. Akibat pengerahan militer skala besar-besaran, negeri kita
juga sepertinya berdiri pada sisi sejarah yang salah. Ini sungguh kurang mengenakkan
bagi pihak-pihak yang terlibat," tandas Bot.
Doktor hukum lulusan
Harvard Law School itu melukiskan berlikunya pengakuan seputar tanggal
kemerdekaan dan hubungan Belanda-Indonesia itu seperti orang mendaki gunung.
"Baru setelah seseorang berdiri di puncak gunung, orang dapat melihat mana
jalan tersederhana dan tersingkat untuk menuju ke puncak. Hal seperti itu juga
berlaku bagi mereka yang terlibat pengambilan keputusan pada tahun 40-an. Baru
belakangan terlihat bahwa perpisahan Indonesia-Belanda terlalu berlarut-larut
dan dengan diiringi banyak kekerasan militer melebihi seharusnya. Untuk itu
saya atas nama pemerintah Belanda akan menyampaikan permohonan maaf di
Jakarta," tekad Bot.
"Dalam hal ini
saya mengharapkan pengertian dan dukungan dari masyarakat Hindia (angkatan
Hindia Belanda), masyarakat Maluku di Belanda dan para veteran Aksi
Polisionil," demikian Bot.
