Hidup dalam pandangan Islam
adalah kebermaknaan dalam kualitas secara berkesinambungan dari kehidupan dunia
sampai akhirat, hidup yang penuh arti dan manfaat bagi lingkungan. Hidup
seseorang dalam Islam diukur dengan seberapa besar ia melaksanakan
kewajiban-kewajiban sebagai manusia hidup yang telah diatur oleh Dienull Islam.
Ada dan tiadanya seseorang dalam Islam ditakar dengan seberapa besar manfaat
yang dirasakan oleh umat dengan kehadiran dirinya. Sebab Rasul pernah bersabda
“Sebaik-baiknya manusia di antara kalian adalah yang paling banyak memberikan
manfaat kepada orang lain. (Alhadis). Oleh karena itu, tiada dipandang berarti
(dipandang hidup) ketika seseorang melupakan dan meninggalkan
kewajiban-kewajiban yang telah diatur Islam.
Makna hidup yang dijabarkan Islam
jauh lebih luas dan mendalam dari pada pengertian hidup yang dibeberkan
Descartes dan Marx. Makna hidup dalam Islam bukan sekadar berpikir tentang
realita, bukan sekadar berjuang untuk mempertahankan hidup, tetapi lebih dari
itu memberikan pencerahan dan keyakinan bahwa. Hidup ini bukan sekali, tetapi
hidup yang berkelanjutan, hidup yang melampaui batas usia manusia di bumi,
hidup yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan sang Kholik. Setiap orang
beriman harus meyakini bahwa setelah hidup di dunia ini ada kehidupan lain yang
lebih baik, abadi dan lebih indah yaitu alam akhirat (Q.S. Adl-dluha: 4).
Salah satu kebutuhan manusia yang
paling mendasar adalah pengakuan dari komunitas manusia yang disebut
masyarakat. Betapa menderitanya seseorang, sekalipun umpamanya ia seorang kaya
raya, berkedudukan, mempunyai jabatan, namun masyarakat di sekitarnya tidak
mengakui keberadaannya bahkan menganggapnya tidak ada, antara ada dan tiada
dirinya tidak berpengaruh bagi masyarakat. Dan hal ini adalah sebuah fenomena
yang terjadi pada masyarakat muslim. Terlebih rugi lagi jika keberadaan kita
tidak diakui oleh Allah SWT, berarti alamat sebuah kemalangan yang akan
menimpa. Ketika usia kita tidak menambah kebaikan terhadap amal-amal, ketika
setiap amal perbuatan tidak menambah dekatnya diri dengan Sang Pencipta,
berarti hidup kita sia-sia belaka. Allah menganggap kita sudah mati sekalipun
kita masih hidup.
